Nina Suzana: Lebaran Depok Bukan Sekadar Tradisi, tapi Identitas Budaya Kota

Supiyadi Ahmad
2 Min Read
Nina Suzana saat memberikan hadiah pemenang ngubek Empang.

Dataradio.id| Sawangan

Perayaan Lebaran Depok 2026 kembali berlangsung meriah dengan balutan budaya khas Betawi Depok. Ribuan warga memadati kawasan Situ Pengasinan, Kecamatan Sawangan, untuk mengikuti tradisi tahunan ngubek empang pada Selasa (5/5/2026).

Di tengah antusiasme masyarakat yang tumpah ruah mengikuti rangkaian acara, Asisten Administrasi dan Umum Sekretariat Daerah Kota Depok, Nina Suzana, menegaskan pentingnya menjaga dan melestarikan tradisi lokal yang menjadi identitas masyarakat Depok.

Menurut Nina, Lebaran Depok memiliki kekhasan tersendiri yang berbeda dari perayaan Lebaran Betawi di daerah lain. Tradisi ini memiliki rangkaian budaya yang sarat makna, mulai dari ngubek empang, cuci perabot, nyedengin baju, hingga pasar penghabisan yang menjadi bagian tak terpisahkan dari perayaan.

“Yang membedakan Lebaran Depok dengan Lebaran Betawi di daerah lain adalah kami punya cerita dan tradisi sendiri. Mulai dari ngubek empang, cuci perabot, nyedengin baju, sampai pasar penghabisan. Itu semua bagian dari rangkaian Lebaran Depok,” ujar Nina.

Selain tradisi budaya, perayaan juga diramaikan dengan berbagai perlombaan seni budaya dan kegiatan masyarakat lainnya yang melibatkan warga dari berbagai wilayah di Kota Depok.

Dalam kesempatan itu, Nina juga mengajak masyarakat untuk ikut berkontribusi dalam pembangunan Kota Depok secara positif. Ia menilai masyarakat tidak hanya sebatas memberikan kritik, namun juga diharapkan mampu menghadirkan gagasan dan solusi demi kemajuan daerah.

“Di bawah kepemimpinan Wali Kota Depok Supian Suri dan Wakil Wali Kota Chandra Rahmansyah, kita harus bersama-sama mengembangkan potensi wilayah dan budaya yang ada. Jangan hanya mengkritik, tapi juga berikan solusi untuk kemajuan Kota Depok,” katanya.

Sebagai upaya pelestarian budaya Betawi Depok, Pemerintah Kota Depok juga terus mengembangkan sejumlah kawasan budaya dan rumah budaya seperti Rumah Budaya yang ada di Rawadenok Rangkapan Jaya.

Keberadaan rumah budaya tersebut menjadi sarana edukasi sekaligus ruang pelestarian sejarah dan budaya masyarakat Depok, termasuk memperkenalkan bentuk rumah khas Depok dan suasana perkampungan tempo dulu.

“Ini bagian dari upaya kita melestarikan budaya sekaligus memperlihatkan identitas Depok kepada masyarakat luas,” tutup Nina.

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses